Di sebuah pagi yang
terbuka lebar,
ada pintu langit yang membentang mengintip manja,
dengan mata sayu.
Sejenak ia bergumam
“Ada anak manusia yang dipilu rindu, di sana”
Matahari mengintip:
bermetamoforsa menjadi bayang senja.
Berwujud muka Tuan yang Puan rindukan, di sana.
Matahari tak lagi manja:
ia pasrah digusur senja yang berpulang.
Puan masih memanjakan rindunya yang larut bersama jingga.
Di sana:
Di sendu rindumu yang semakin manja.
- Fanbul, Juni 2012, digarap di buku catatannya bung Bagustian Iskandar -
diambil dari blog milik @fanbul
source: fanbul.tumblr.com
ada pintu langit yang membentang mengintip manja,
dengan mata sayu.
Sejenak ia bergumam
“Ada anak manusia yang dipilu rindu, di sana”
Matahari mengintip:
bermetamoforsa menjadi bayang senja.
Berwujud muka Tuan yang Puan rindukan, di sana.
Matahari tak lagi manja:
ia pasrah digusur senja yang berpulang.
Puan masih memanjakan rindunya yang larut bersama jingga.
Di sana:
Di sendu rindumu yang semakin manja.
- Fanbul, Juni 2012, digarap di buku catatannya bung Bagustian Iskandar -
diambil dari blog milik @fanbul
source: fanbul.tumblr.com
No comments:
Post a Comment